fbpx
Sun. Aug 1st, 2021

MindsetMerdeka.id

Official Website #MindsetMerdeka by Bro Neal

Pemimpin Pembelajar Dalam Sudut Pandang Neurosains: Memori Vs Lupa | Taruna Ikrar & Roy T.Amboro

4 min read

Dalam era perkembangan digital dan Artifical Intelligence pesat saat ini dimana semua terhubung dan terbangun berbagai informasi dan pengetahuan baru memberikan sebuah peluang baru bagi manusia.

Di era yang bisa juga disebut dengan Era Pengetahuan dan Perubahan maka dibutuhkan sebuah mastery sistem belajar manusia yang efektif dan berdampak nilai tambah.

Hal ini menjadi kunci keberlangsungan hidup manusia bila ia tidak ingin tergilas dengan perubahan jaman yang sudah begitu cepat, kompleks dan turbulence disertai dengan begitu banyak “Novelty Effect”.

Bagaimana kita sebagai Pemimpin menyikapi hal ini, apa yang pemimpin harus lakukan agar ia tidak stagnan dan tetap terus belajar dan bertumbuh?

Dalam proses pembelajaran yang efektif sebagai kunci membangun Kelincahan dan Pertumbuhan maka tidak dapat dinafikan sebuah keadaan di otak kita yang kita sebut dengan Memori vs Lupa.

Menjadi sangat penting kualitas otak seorang Pemimpin dari sudut pandang ilmu Neurosains sehubungan dengan kemampuannya mengingat informasi-informasi penting dan menggunakannya secara paralel dan terhubung menjadi sinaptic-sinaptic baru yang menciptakan “Insights dan Pengetahuan”.

Memori vs Lupa

Ingatkah Anda apa yang Anda makan di malam hari tepat pada hari ini setahun yang lalu? Ingatkah Anda siapa yang Anda telepon pertama kali pada hari ini dua tahun lalu? Sangat besar kemungkinan tak satu pun dari kita mengingat hal-hal seperti itu. Kenapa bisa lupa?

Lupa berkaitan dengan proses kerja dan memori otak. Peristiwa luar biasa yang menggetarkan hati kita tentu akan tetap diingat, tetapi kejadian yang biasa-biasa saja sangat mudah dilupakan. Bisakah otak manusia mengingat segala sesuatu yang dialami pancaindera? Bisakah kita menghapus lupa sehingga segala sesuatu terekam sempurna dalam otak selamanya?

Pakar neuroscience Taruna Ikrar, MD, PhD (Co-Founder NeuroLeadership Indonesia), menjelaskan apa yang terjadi dengan otak kita yang menyebabkan terjadinya lupa, dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegah lupa. Dalam kondisi normal, lupa bisa merupakan suatu mekanisme pembelaan ego dan merupakan suatu mekanisme pertahanan diri dari berbagai aspek stressor psikologi. Namun dalam konteks lain pelupa juga merupakan salah satu ciri penyakit, misalnya Alzahemer.

Memori adalah penting untuk semua proses pembelajaran, karena memungkinkan Anda menyimpan dan mengambil informasi yang Anda pelajari. Dengan demikian, daya ingat atau memori tergantung pada proses belajar. Demikian pula belajar juga tergantung pada memori.

Daya ingat atau memori ditunjukkan dalam penelitain neurosains, bahwa: Jenis memori dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria yang digunakan, dan setidaknya tiga jenis memori dapat dibedakan, yaitu: memori sensorik, memori jangka pendek, dan memori jangka panjang.

  1. Pada Jenis Memori sensorik: mengambil informasi yang diberikan oleh indera dan mempertahankan secara akurat tapi sangat singkat. Memori sensorik berlangsung dalam waktu yang singkat yang sering dianggap sebagai bagian dari proses persepsi.
  2. Memori jangka pendek mencatat sementara peristiwa dalam kehidupan kita. Sebagai contoh, kita dapat mengingat bentuk wajah orang yang kita kenal, atau nomor telepon yang kita dengar dari seseorang, tetapi informasi ini akan cepat hilang, kecuali kita membuat usaha sadar untuk mempertahankannya. Memori jangka pendek memiliki kapasitas penyimpanan hanya sekitar tujuh item dan berlangsung hanya beberapa puluh detik.
  3. Memori jangka panjang tidak hanya menyimpan semua peristiwa penting yang dihadapi dalam kehidupan kita, hal ini memungkinkan kita untuk mempertahankan makna kata-kata dan keterampilan fisik yang telah kita pelajari. Kapasitasnya dapat berlangsung berhari-hari, bulan, tahun, atau bahkan seumur hidup.

Walaupun jenis memori ini memiliki proses sinaptic yang berbeda-beda tapi pada dasarnya semua bekerja sama secara erat dalam proses mengingat dan menghafal. Dan dalam menciptakan perubahan dan terobosan bagi seorang Pemimpin maka ia perlu memahami dan mengetahui bagaimana semua jenis memori ini menjadikan proses belajar dan berubah menjadi lebih cepat dan menetap menjadi sebuah perubahan kebiasaan yang positif dan bernilai tambah.

Memori & Pengetahuan

Bentukan memori ini akan maujud dalam sebuah pengetahuan yang bersifat Deklaratif (Eksplisit) dan Non-Deklaratif (Tacit).

Pengetahuan deklaratif berhubungan dengan segala sesuatu yang dapat diungkapkan dengan kata-kata seperti: SOP (standard operation procedure), Petunjuk pemakaian/penggunaan sebuah alat/metodologi, dan lain sebagainya yang telah tertulis menjadi sebuah narasi dalam mengimplementasikannya.

Pengetahuan Non-Deklaratif (Tacit) yang juga dikenal sebagai pengetahuan berbasis memori implisit, karena anda mengungkapkannya dengan cara lain tanpa menggunakan kata-kata.

Sebagai contoh adalah ketika anda naik sepeda atau mengemudikan mobil/motor maka anda sudah tidak lagi mengungkapkannya dengan kata-kata tapi dengan sebuah ketrampilan bawah sadar yang telah terbentuk karena latihan dan pengalaman yang berulang-ulang.

Sehingga secara prinsip, berdasarkan Neurosains, bahwa ingatan/memori adalah suatu proses kerja otak yang ditandai dengan penyimpanan informasi yang diolah sedemikian rupa dalam proses sinaptic antar neuron menjadikannya sebuah pengetahuan baik yang bersifat Tacit maupun Ekspisit.

Kedua jenis memori dan pengetahuan ini menjadi penting bagi seorang Pemimpin dalam ia belajar dan mengambil keputusan yang cerdas dan waskita (wisdom) serta minimal bias.

Oleh karena itu kami mememberikan tips disini bagaimana agar pengetahuan Tacit maupun Eksplisi kita sebagai Pemimpin bisa terus bertumbuh dan terstruktur dengan baik, yang pada akhirnya memudahkan kita untuk mengingat dan belajar dengan efektif.

Setidaknya perlu dilakukan 3 hal yaitu:

  1. Sering mengulang hal-hal penting supaya sensasi system saraf senantiasa diperkuat pada pusat memori diotak.
  2. Mengorganisai dengan baik proses belajar secara sistematis, misalkan: Kaitkan informasi dengan sebuah makna besar dan kandungan emosi. Contoh mengingat angka 2117412484877 bisa kita ingat dengan: nonton di theater 21 film 17 th ber 4 jam 12 siang; setelah nonton naik taksi 4848 ke es teler 77. Bangunlah kebiasaan kita untuk men-Generate pemikiran dan kata-kata kita sendiri dalam memaknai sebuah informasi.
  3. Mengkonsumsi makanan yang sehat berupa protein-protein yang dibutuhkan untuk proses kerja dan regenerasi system saraf/Neuron.

Selamat mencoba dan teruslah belajar dan bertumbuh.

Salam NeuroLeader

Prof. TARUNA IKRAR, M.D, M.Biomed, PhD,
Chairman of Medical Council at Indonesia Medical Council
Follow IG @Taruna_Ikrar << Click

Roy T. Amboro
Author, Speaker &
NeuroLeadership Practitioner at NeuroLeadership Indonesia Institute
Follow IG @RoyTriAmboro << Click

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *